PERHATIAN !!!

Cerita-cerita yang ada di dalam blog ini adalah hasil karya yang perlu dihargai.. Karena itu jika anda ingin meng-copypaste cerita-cerita ini, harap menyertakan linkback ke blog ini. Terima kasih.

Thursday, March 18, 2010

Twins : Anna & Silvia





Anna dan Silvia adalah nama sepasang gadis kembar identik yang cantik. Mereka adalah siswa kelas 3 di sebuah SMA. Saat ini, saya akan menceritakan kisah cinta mereka satu-persatu.

Anna’s Story :

Anna yang adalah siswa teladan dan juga kakak dari Silvia. Dia adalah gadis yang baik, namun sedikit pendiam dan sulit untuk mengutarakan perasaannya. Dia berencana untuk melanjutkan study nya di luar negeri. Untuk itu, dia perlu kendaraan untuk bepergian disana. Dan dia juga perlu belajar mengendarainya. Jadi, dia mendaftar di sebuah tempat pelatihan mobil.
Disana dia memiliki seorang instruktur dan asisten instruktur yang bernama Rei, yang usianya 23 tahun. Saat pertama melihat Rei, Anna merasa hatinya berdebar tak karuan. Namun, dia tidak tahu perasaan apakah itu? Anna memiliki waktu sebulan untuk belajar di tempat pelatihan mobil itu hingga dia bisa lancar mengendarainya.
Di sela-sela latihan, Anna sering bercakap dengan Rei. Tentang alasannya menjadi instruktur yang dijawab karena Rei adalah seorang pembalap. Anna terkejut. Karena Rei tidak terlihat sebagai seorang pembalap. Dia adalah orang yang cukup rapi, juga baik. Dalam pikirannya, Anna menganggap pembalap adalah orang yang kasar dan berantakan. Mendengar itu Rei tertawa terbahak-bahak, dan membuat wajah Anna menjadi merah padam.
Selama satu bulan berlatih, mereka sering menghabiskan waktu bersama diluar jam latihan. Dan Rei juga berkenalan dengan Silvia yang membuat Rei terkejut karena ternyata Anna memiliki seorang kembaran. Rei berkata bahwa sifat mereka berdua sangatlah berbeda. Silvia adalah anak yang supel, itu membuat dia cepat akrab dengan Rei. Jauh di lubuk hati, Anna merasakan sakit saat melihat mereka berdua. Anna merasa, mereka berdua terlihat sangat serasi. Silvia juga yang lebih sering menghabiskan waktu bersama Rei.
Satu bulan akan berakhir. Anna hanya memiliki waktu satu minggu lagi bersama Rei. Anna ingin bisa mengungkapkan perasaannya kepada Rei. Namun dia merasa kalau Rei menyukai Silvia, bukan dia. Maka diapun mengurungkan niatnya. Kemudian, malam sebelum tanggal 30 Anna bercakap-cakap dengan Silvia. Sampai pada topik tentang Rei….

Silvia   : “Ann, menurut kamu, Rei itu orangnya gimana?”
Anna   : “Gimana apanya maksudmu?”
Silvia   : “Aduh…. Ya sifatnya, sikapnya…. Apalah gitu….”
Anna   : “Hmm…. Dia orangnya baik. Baik banget malah…. Dia juga dewasa dan perhatian.”
Silvia   : “Ohh….” (manggut-manggut sambil tersenyum)
Anna   : “Memang kenapa kamu nanya gitu, Sil?”
Silvia   : “Ah, eng…. Engga ada apa-apa kok Ann! Eh, udah malem nih. Tidur yuk!” (jawab Silvia panik)

Anna pun tidur sambil masih menyimpan rasa penasarannya tentang pertanyaan dan perilaku adiknya yang mencurigakan ini.
Hari ini adalah hari terakhir Anna di tempat pelatihan. Dan juga adalah hari Anna dapat bertemu dengan Rei untuk terakhir kalinya. Karena dia tidak memiliki alasan dan tidak berani untuk berjumpa Rei lagi. Saat Anna akan pulang, Rei memanggilnya. Dengan ragu-ragu Rei bertanya kepada Anna….

Rei       : “Ehmm…. Kamu…. Apa Silvia pernah menceritakan sesuatu tentang aku padamu?”
Anna   : “Tidak. Dia tidak pernah….“ (tiba-tiba teringat akan percakapannya semalam dengan Silvia) “Ah! Ya, dia pernah bertanya padaku tentang kamu.”
Rei       : “Benarkah? Apa yang dia tanyakan?” (dengan wajah terkejut)
Anna   : “Ya, dia bertanya bagaimana pendapatku tentang kamu.”
Rei       : “Lalu…. Apa jawabanmu?”
Anna   : (tiba-tiba merasa malu) “A…. Aku…. Tidak…. Aku tidak menjawab apa-apa. Maaf, aku mau pulang.”

Anna berlari meninggalkan Rei dengan wajah merah padam. Perasaan sedih, patah hati, dan sebagainya merasuk ke dalam hatinya. Dia menangis sedih…. Lelaki yang dicintainya ternyata mencintai adikknya. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Sampai di rumah, dia segera berlari ke kamarnya tanpa menghiraukan pertanyaan ibunya dan Silvia. Dia menangis dan menangis. Kemudian Silvia mengetuk pintu kamarnya dan masuk ke kamarnya.

Silvia   : “Anna, apa yang terjadi? Mengapa kamu menangis?” (sambil mengelus rambut Anna)
Anna   : “Tidak…. Tidak ada apa-apa….” (sambil membersihkan airmatanya)
Silvia   : “Jangan berbohong! Aku tahu bagaimana dirimu. Dan aku tahu bagaimana caramu menghadapi masalah! Kamu akan menangis sendirian dan bersikap seolah tidak ada yang terjadi.”
Anna   : (terdiam dan menatap Silvia) “…. Tadi, Rei menanyakan padaku apakah kamu pernah menanyakan sesuatu padaku….”
Silvia   : “Lalu? Apa yang kamu katakan?”
Anna   : “Aku bilang, kamu sempat menanyakan sesuatu padaku.”
Silvia   : “Wah, jujur sekali kamu…. Lalu? Apa kamu menjawabnya?”
Anna   : “Tidak. Aku terlalu malu untuk menjawabnya.” (dengan pipi merona karena malu)
Silvia   : “Hahahaha!! Memang seperti itulah kamu. Terus, kenapa kamu nangis?”
Anna   : *Akhirnya! Silvia menanyakan hal yang paling tidak ingin kukatakan padanya!* batin Anna. “Eng…. Tidak ada apa-apa….” (dengan wajah panik)
Silvia   : “Sudahlah Sis…. You know, I know you and you know me. We know each other. So, tell me the truth. What do you think about him?” (dengan memamerkan kepandaiannya berbahasa Inggris)
Anna   : (sudah tak tahu harus menyangkal apalagi) “Yahh…. Begitulah….”
Silvia   : “Begitulah gimana nih??? Ayo, bilang sajalah…. Aku penasaran.” (dengan wajah yang menggoda kakaknya)
Anna   : “Ugghhh!! Iya, aku suka padanya!!” (dengan sedikit berteriak dan wajah merona)

Tiba-tiba Silvia tertawa terbahak-bahak. Akhirnya kakaknya ini bisa menyatakan isi hatinya. Dan Silvia berkata bahwa dia dan Rei tidak ada hubungan apa-apa. Mereka hanya sehobi dan dia juga biasa menjadi tempat curhatnya Rei. Setelah bercakap-cakap agak lama, ibu mereka berkata bahwa Anna memiliki tamu di depan rumahnya. Penasaran siapa yang datang, Anna segera turun dan melihat tamunya.
Ternyata oh ternyata, yang datang adalah Rei! Lengkap dengan tuxedo, mawar di tangannya, dan…. Lihatlah sesuatu yang terparkir di belakangnya…. Sebuah Porsche hitam!!! Bagaimana Anna tidak terkejut dengan semua itu?? Sementara Anna yang masih tercengang-cengang sambil memegang mawar yang diberikan Rei untuknya, ibu dan adiknya malah terlihat riang dan segera mempersiapkan Anna untuk pergi bersama Rei.
Setelah siap untuk pergi dengan gaun terusan merah tua dengan pita renda yang ada di pinggangnya yang membuat ia terlihat semakin manis, mereka pun pamit. Dalam perjalanan mereka hanya diam tidak bersuara. Setibanya di restoran bintang lima (bintang sepuluh kalau perlu!) mereka duduk di meja yang telah dipesan dan menikmati iringan musik jazz yang dimainkan oleh grup musik di restoran itu. Akhirnya, Rei memulai percakapan….

Rei       : “Uhmm…. Apakah kamu terkejut?”
Anna   : “Apakah ada alasan untuk tidak terkejut?” (balas Anna balik bertanya)
Rei       : “Hahaha! Tentu saja kamu terkejut. Aku memang telah merencanakannya sejak lama. Bagaimana pendapatmu?”
Anna   : “Aku sangat terkejut! Tapi juga senang…. Terima kasih.” (sambil tersenyum)
Rei       : “Aku ingin membuatmu senang. Tak peduli berapapun sulitnya.” (sambil memperlihatkan senyumnya yang luar biasa indah)
Anna   : “Tapi, mengapa kamu berbuat seperti ini? Apa alasanmu?”
Rei       : “Well…. Ternyata benar kata Silvia. Walaupun pandai dalam pelajaran, tapi kamu agak lamban soal cinta…. (sambil tersenyum kecil) “Tapi itulah yang kusuka darimu.”
Anna   : “A…. Apa?? Apa maksudmu?” (dengan wajah tidak mengerti namun entah mengapa jantungnya berdegup kencang)

Tiba-tiba Rei menggenggam tangan Anna dengan lembut….

Rei       : “Aku mencintaimu, Anna.” (dengan wajah serius)
Anna   : (wajahnya bersemu merah dan degupan jantungnya yang semakin kencang) “Eh….?”
Rei      : “Aku bermaksud untuk melamarmu, tapi tentu saja tidak mungkin secepat itu kamu akan menerimanya. Jadi, aku ingin menjalin hubungan yang serius denganmu.”
Anna   : “Benarkah? Apa aku tidak salah dengar? Apa kamu tidak salah mengucapkannya untuk Silvia?” (masih tidak percaya)
Rei       : “Tentu saja kamu tidak salah dengar. Aku dan Silvia sama sekali tidak ada hubungan apa-apa. Malah, aku sering bertanya tentang kamu padanya.”
Anna   : “Oh…. Aku pikir…. Kamu dan Silvia….”
Rei       : “Tidak, kamu hanya salah paham. Sudahlah, lupakan dia. Sekarang, aku ingin tahu bagaimana jawabanmu?” (sambil terus menggenggam tangan Anna)
Anna   : “A…. Aku…. Aku juga mencintaimu….” (dengan wajah yang amat merona beserta degupan jantungnya yang sudah mencapai max)
Rei       : (dengan wajah tidak percaya) “Benarkah? Benarkah kamu juga mencintaiku??”
Anna   : (hanya bisa mengangguk kecil)
Rei       : “Yes! Akhirnya…. Aku mendapatkan gadis yang sungguh-sungguh aku cintai. Terima kasih Anna….” (sambil tersenyum dan mengecup tangan Anna)
Anna   : (hanya dapat mengangguk dan wajahnya semakin merona)

Akhirnya pesanan mereka datang, dan mereka menikmati hidangan mereka sambil bercakap-cakap banyak. Tentang diri Anna, tentang diri Rei, dan sebagainya. Setelah sampai di rumah, Silvia menyerbunya dengan ribuan pertanyaan. Dan Anna menceritakan apa yang dialaminya semalam ini. Dan dari Silvia, dia tahu bahwa Rei adalah pewaris tunggal perusahaan besar milik ayahnya. Dan, Rei sudah tertarik dengannya sejak dia datang mendaftar di tempat pelatihan mobil waktu itu. Dan karena ternyata tempat pelatihan mobil itu juga adalah milik Rei. Sehingga tidak sulit baginya untuk menyamar sebagai asisten pelatih yang melatih Anna.

Inilah kisah cinta Anna, seorang gadis pemalu yang sulit untuk mengungkapkan perasaannya. Tidak disangka, kisah cintanya akan berakhir bahagia seperti ini.

Sekarang, kita akan melihat kisah cinta Silvia, gadis ceria adik kembar Anna.



Silvia’s Story :

Pagi yang cerah. Musim ujian akhir untuk siswa kelas 3 pun semakin dekat. Itulah yang dialami oleh Anna dan Silvia, yang juga akan menyelesaikan masa SMAnya. Silvia yang tadinya tidak suka pergi ke perpustakaan pun terpaksa harus ikut bersama kakaknya untuk belajar bahan-bahan latihan ujian di perpustakaan umum dekat rumah mereka.
Sambil dengan enggan memilih-milih buku, Silvia pergi ke meja pengurus perpustakaan untuk mendata buku-buku yang akan dipinjamnya. Tiba-tiba, Silvia melihat seorang lelaki tampan di meja pengurus perpustakaan di sebelahnya. Wajahnya terlihat sangat ramah dan terkesan sejuk jika dipandang. Dilihat dari penampilannya, mungkin dia adalah seorang mahasiswa.
Silvia melihat lelaki itu menatap Anna dan tersenyum padanya. Mereka kemudian bercakap sedikit lalu Anna pergi ke meja baca untuk membaca buku yang telah dipinjamnya, lelaki itu pun melanjutkan tugasnya mendata buku. Setelah bukunya selesai didata, Silvia segera menghampiri meja tempat Anna duduk. Tanpa basa-basi, Silvia segera bertanya kepada Anna tentang lelaki yang dilihatnya….

Silvia   : “Ann, kamu kenal cowo petugas perpus yang ngobrol sama kamu tadi?”
Anna   : (agak terkejut karena tiba-tiba ditanyai seperti itu) “Ya, aku kenal dia. Kenapa?”
Silvia   : “Oh ya? Namanya siapa? Kamu kenal dia darimana? Dia mahasiswa?”
Anna   : “Wow…. Apa ngga kurang banyak yang kamu tanya nih? Kayak polisi aja yang lagi interogasi tersangka. Hahaha!”
Silvia   : “Aduh…. Udah, kamu bilang aja dia siapa?”
Anna   : “Hmm…. Dia namanya Shinji, mahasiswa semester 4 di universitas yang dekat dengan sekolah kita itu loh. Eh, biasa kamu nanya-nanya tentang cowo gini pasti ada apa-apanya. Kamu suka ya sama dia?” (sambil tersenyum dan menunjuk Silvia)
Silvia   : “Oh…. Namanya Shinji toh…. Dia keren yah Ann. Aku ngga tahu kalau di perpus juga ada cowo cakep kaya’ dia gitu!”
Anna   : “Iya, dia emang cakep. Tiap aku datang ke perpus, pasti ada aja anak-anak cewe yang datang buat lihat dia. Hahaha!”
Silvia   : “Oh ya? Wah, dia populer dong? Udah ada pacar belum yah?” (Tanya Silvia dengan penuh rasa penasaran)
Anna   : “Mau tahu? Tunggu, aku panggil dia kesini.” (sambil berjalan meninggalkan Silvia dan menghampiri Shinji)

Setelah terlihat sedang bercakap-cakap, Anna dan Shinji mendekati meja yang ditempati oleh Silvia. Tentu saja Silvia terkejut dan tegang karena berjumpa dengan Shinji.

Anna   : “Kak Shin kenalkan ini adik kembar saya, Silvia. Silvia, ini Kak Shin.” (sambil tersenyum memperkenalkan Silvia dan Kak Shin)
Silvia   : “Ah, uhm…. Perkenalkan, aku Silvia.” (memberikan tangannya dengan gugup)
Shinji   : “Perkenalkan, aku Shinji. Tapi kamu boleh memanggilku Shin saja.” (saling bersalaman dengan Silvia dan tersenyum) “Aku tidak pernah tahu kalau kamu memiliki adik kembar Anna.”
Anna   : “Ya, aku tidak pernah mengatakannya pada kakak. Habis, kakak tidak pernah menanyakannya sih. Hahaha!”
Shinji   : “Hahaha. Bisa saja kamu. Baiklah, aku kembali dulu di tempat pengurus perpus. Kalian selamat membaca. Senang berjumpa denganmu, Silvia.”
Silvia   : “Ah, ya. Senang berkenalan denganmu.”

Setelah Kak Shin kembali ke tempatnya, Anna duduk di tempatnya dan bertanya kepada Silvia….

Anna   : “Gimana? Orangnya baik kan?”
Silvia   : “Iya, baik dan kereeen!! Hehehe.”
Anna   : “Huu…. Dasar kamu! Ngomong-ngomong, baru kali ini aku lihat kamu grogi dengan cowo. Ada apa nih??” (sambil menggoda Silvia)
Silvia   : “Ah, masa? Ngga tuh kayaknya…. Perasaan kamu aja kali Ann.”
Anna   : “Ya, ya, ya. Paling juga kamu suka sama dia. Dia memang tipe kamu sih.”
Silvia   : “Iya, aku suka dia. Kamu kok ngga kasih tau kalau ada cowo keren kayak gitu disini?”
Anna   : “Hahaha! Sudah kuduga. Emang, kalau aku bilang ada cowo cakep di perpus yang kamu paling ngga suka kamu percaya?”
Silvia   : “Ya…. Iya sih…. Aku ngga bakal percaya…. Hehehehe….” (sambil cengengesan)
Anna   : “Apa kubilang. Biar ada cowo sekeren Johnny Deep juga kamu ngga bakal percaya kalau cowo itu ada di perpus.”
Silvia   : “Iya, sekarang aku bakal percaya deh. Eh, kamu akrab sama dia Ann?”
Anna   : “Yah, ngga juga. Kita ngobrol kalau lagi di perpus doang sih. Tapi waktu itu kita sering keluar bareng juga, ke pameran buku.”
Silvia   : “Oh ya? Jadi, kalian kontak-kontakan dong? Kamu tahu nomornya dong?”
Anna   : “Iya, waktu itu dia minta nomor aku buat kasih tahu kalau buku yang aku cari udah nyampe atau belum. Kamu mau nomornya?”
Silvia   : “Oh…. Enak yah…. Emang dia ngga merasa terganggu kalau aku hubungin dia? Lagipula, aku kan baru kenal dia hari ini. Masa tiba-tiba langsung hubungin dia?”
Anna   : “Yah…. Iya sih…. Hahaha! Ya udah, kamu ajak-ajak ngobrol aja dulu. Tapi mungkin agak susah, dia pendiam orangnya.”
Silvia   : “Aku udah tahu dari pertama lihat dia kalau dia orangnya pendiam. Susah nih….”
Anna   : “Ya udah, good luck aja deh buat kamu. Sekarang kita pulang yuk, udah gelap tuh diluar.”

Akhirnya mereka berpamitan dengan Kak Shinji dan pulang.
 

Setelah sampai di rumah, HP Anna berdering tanda SMS masuk. SMS itu ternyata dari Kak Shin, isinya :
“Hey, udh pulang yah?
Besok ktmu lg di perpus yah.
Salam buat Silvia.”

Dan dibalas oleh Anna :
“Iya, qta udh pulang.
Ok, ktm lg bsok.
Salam balik dr Silvia.”

SMS balasan dari Kak Shin :
“Btw, aq mnta nmrnya Silvia dong, Ann.
Klo blh.”

SMS itu membuat Silvia terkejut! Tidak disangka, malah Kak Shinji yang menanyakan nomornya lebih dulu. Tak pernah disangka olehnya.
Kemudian dibalas oleh Anna :
”Blh, knp ga blh?
Nmrnya 08xxxxxx.”

Selang sepersekian detik laporan terkirim diterima oleh Anna, tiba-tiba HP Silvia berdering tanda SMS masuk. Ketika dilihat, ternyata nomor tidak dikenal yang meng-SMSnya. Sesuai yang mereka duga, bahwa nomor itu adalah nomor Kak Shinji yang meng-SMS Silvia. SMS antara Silvia dan Kak Shinji berlanjut hingga larut malam. Tidur Silvia pun terasa nyenyak karena dia bisa ber-SMS dengan Kak Shinji. Dia berharap, Kak Shinji adalah orang yang tepat untuknya.
Sejak itu, Silvia menjadi rajin pergi ke perpustakaan untuk menemui Kak Shinji. Kak Shinji juga sering mengajarinya tentang pelajaran-pelajaran untuk ujian. Semakin lama, hubungan mereka semakin dekat. Mereka sering bertemu berdua, sering ber-SMS dan sebagainya.
Pada suatu malam, HP Silvia berdering tanda telepon masuk. *Siapa yah yang menelepon malam-malam begini?* batin Silvia. Ternyata yang menelepon adalah Kak Shinji. Silvia terkejut dan cepat-cepat mengangkat telepon darinya.

Shinji   : “Halo, Silvi?” (suara Kak Shin terdengar di telepon)
Silvia   : “Ya, ini aku. Ada apa kak?”
Shinji   : “Tidak, hanya ingin ngobrol denganmu.”
Silvia   : “Oh, tumben. Hehehe.”
Shinji   : “Iya, aku sedang bosan. Ngomong-ngomong, Anna sudah tidur?”
Silvia   : “Ya, Anna sudah tidur. Dia memang cepat sekali kalau soal tidur. Haha!”
Shinji   : “Wew…. Begitu yah. Oh iya, ada yang ingin aku tanyakan.”
Silvia   : “Apa?”
Shinji   : “Apa kamu sudah punya pacar?”
Silvia   : “Hah?! Mengapa tiba-tiba….” (karena terlalu terkejut, Silvia tidak dapat berkata apa-apa)
Shinji   : “Tidak, aku hanya iseng bertanya saja. Haha.”
Silvia   : “Oh…. Tidak, aku belum punya pacar. Mau daftar? Hehe.”
Shinji   : “Wah, masa gadis cantik sepertimu tidak punya pacar? Kalau Anna?”
Silvia   : “Iya, aku memang gadis cantik yang tidak laku. Huhu…. Anna belum punya pacar tapi sudah punya tunangan.”
Shinji   : “Begitukah? Tidak disangka gadis pendiam seperti itu bisa punya kekasih. Hahaha!”
Silvia   : “Iya, diam-diam cabe rawit. Hahahaha!”
Shinji   : “Eh, sudah lama kita teleponan. Sudah dulu ya, bye-bye!”
Silvia   : “Ok. Bye-bye too.”

Telepon dimatikan dan pembicaraan mereka selesai sampai disitu. Saatnya tidur untuk berjumpa dengan pujaan hati besok!
Hari ini adalah hari minggu, itu berarti perpustakaan libur. Silvia lupa karena terlalu senang dengan telepon semalam. Setelah sadar, ia telah berada di depan pintu masuk perpustakaan. Silvia memutuskan untuk pulang ke rumah sebelum dia mendengar ada suara orang bercakap-cakap di dalam. Awalnya dia ingin mengabaikan mereka, namun hatinya dipenuhi oleh rasa penasaran yang amat sangat.
Karena, suara yang dia dengar adalah suara Kak Shinji. Bersama seseorang, entah siapa. Dia mendengar dari balik pintu….

Someone         : “Aku tidak bisa! Dan aku sama sekali tidak berniat untuk bersamamu!”
Shinji               : “Tapi, kamu tahu perasaanku sejak dulu! Mengapa kamu masih melakukan hal ini padaku?”
Someone         : “Karena, aku tahu kalau kamu bukan untukku! Aku telah memiliki seorang yang akan menjalani hari-hari bersamaku. Dan orang itu pastilah bukan kamu! Kamu telah mendengarnya dari dia sendiri kan?”

*Dia? Dia siapa yang dimaksud oleh orang ini?* pikir Silvia.

Shinji               : “Ya, aku memang baru saja tahu. Lagipula, apakah hanya karena lelaki itu saja kamu menolakku?”
Someone         : “Tidak. Alasan utama aku menolakmu karena….”
Shinji               : “Karena apa? Jawablah!”
Someone         : “Karena kamu adalah orang yang dicintai adikku! Silvia!”

*A…. Apa?! Apa yang kudengar barusan itu? Silvia? Mungkinkah…. Mungkinkah dia adalah….*

Silvia segera membuka pintu perpustakaan. Dan…. Benar saja. Yang dilihatnya adalah Kak Shinji dan kakak kembarnya, Anna. Merekalah yang daritadi dia curi dengar pembicaraannya.

Anna   : “Si…. Silvia….” (dengan wajah amat terkejut)
Shinji   : “Silvi! Mengapa kamu ada disini?” (dengan wajah yang sama terkejutnya dengan Anna)
Anna   : “Apakah…. Apakah kamu mendengar semua yang telah kita bicarakan tadi?” (dengan wajah agak takut)
Silvia   : “Kakak…. Kak Shin…. Aku…. Aku tidak pernah menyangka kalian….” (dengan wajah pucat dan tidak percaya)
Anna   : “Tunggu, tunggu dulu Silvia…. Dengarkan penjelasanku…. Aku dan Kak Shin tidak….”
Silvia   : “Tidak! Cukup! Aku tidak ingin mendengar apa-apa lagi! Cukup! Aku sudah tahu segalanya!”
Shinji   : “Silvi, tunggu dulu….” (berusaha menenangkan Silvia)
Silvia   : “Cukup! Sekarang aku tahu kalau selama ini kakak mendekatiku hanya untuk mengetahui keadaan Anna!” (airmata mulai membasahi pipinya)
Shinji   : “Aku tidak….”
Silvia   : “Sudahlah…. Aku sudah lelah dibohongi seperti ini…. Aku seperti orang bodoh yang tidak tahu apa-apa…. Aku terlalu bahagia sendiri dengan angan-anganku tanpa tahu yang sebenarnya…. Cukup! Aku sudah tidak ingin dibohongi lagi!” (berbalik keluar perpustakaan dan berlari)
Anna   : “Silvia! Tunggu!” (berusaha mengejar, namun tidak bisa) “Mengapa kamu tidak mengejarnya?” (dengan nada agak kesal)
Shinji   : “Aku tidak tahu apa yang harus aku ucapkan saat ini padanya…. Dan…. Apa yang dia katakan adalah benar….”
Anna   : “Ka…. Kamu benar-benar mengecewakan!” (berlari meninggalkan Shinji seorang diri)

Satu bulan berlalu sejak kejadian itu. Silvia tidak pernah kembali ke perpustakaan dan tidak pernah berhubungan dengan Shinji lagi. Ujian semakin dekat, semua semakin giat belajar. Tidak ada waktu untuk memikirkan Shinji. Walaupun sebenarnya Silvia hanya berusaha mencari kesibukan agar dia bisa melupakan Shinji.
Namun, kerinduannya sudah tidak dapat dibendung lagi. Entah mengapa, kakinya otomatis melangkah menuju perpustakaan. Saat dia ingin kembali, tiba-tiba ada suara yang memanggilnya….

Shinji   : “Silvia….?”
Silvia   : (terdiam, tidak tahu harus berbuat apa)
Shinji   : “Silvia, kamukah itu?” (tanya Shinji sekali lagi)
Silvia   : (berusaha membalikkan badan) “Ya, it’s me.”
Shinji   : “Lama tak berjumpa. Apa kabarmu?”
Silvia   : “I’m ok.”

Lama sekali mereka berdiam. Akhirnya, Shinji mengajak dia untuk berjalan di taman dekat perpustakaan bersama. Disana mereka hanya berjalan dalam diam. Tidak ada yang berani memulai pembicaraan. Sampai akhirnya….

Shinji   : “Silvia, tentang masalah waktu itu….”
Silvia   : (hanya menunduk dan diam)
Shinji   : “Aku tahu, aku yang salah. Aku tidak mengatakannya dari awal padamu kalau aku menyukai Anna. Sejak aku bertemu dengannya, aku selalu penasaran dengan dia. Sikapnya yang tidak mempedulikan aku, berbeda dengan gadis-gadis lain yang pernah kutemui.”
Silvia   : (tetap diam dan mendengarkan)
Shinji   : “Pada saat aku berkenalan denganmu, aku memang berencana untuk mendekati dia lewat kamu. Setiap hari aku berbicara denganmu, aku selalu menyisipkan pertanyaan-pertanyaan tentang dia. Tapi karena tidak ingin membuatmu curiga, aku juga menanyakan hal yang sama padamu.” Melanjutkan ceritanya. “Tapi pada saat aku menanyakan apakah kamu sudah memiliki seorang pacar, aku sungguh-sungguh ingin mengetahuinya. Entah mengapa, aku jadi ingin tahu tentang kamu. Aku ingin tahu lebih banyak lagi tentang kamu dibanding Anna….”
Silvia   : (untuk pertama kalinya sejak berjumpa dengan Shinji, dia menatap wajah lelaki itu)
Shinji   : “Dan aku sangat terkejut ketika Anna berkata bahwa kamu menyukai aku.”
Silvia   : (wajahnya merona) *Celaka! Terbongkarlah sudah…. Malunya aku….*
Shinji   : “Saat itu, aku masih belum mengerti perasaan apa yang aku rasakan terhadapmu. Sampai saat aku berjumpa denganmu lagi saat ini, aku baru mengerti bahwa selama ini yang sungguh-sungguh aku cintai adalah kamu. Bukan Anna.”
Silvia   : “Hah? Apa yang kamu….” (dengan wajah terkejut)
Shinji   : “Ya, aku tidak mencintai Anna. Aku hanya menganggapnya sebagai idola, karena dia adalah gadis yang dewasa. Tapi, denganmu aku merasa bahagia. Sangat bahagia….” (sambil tersenyum menatap Silvia lembut)
Silvia   : “Kamu pasti bercanda….” (bantah Silvia tidak percaya)
Shinji   : “Tidak, aku sama sekali tidak bercanda. Aku tidak bisa lepas darimu. Satu bulan terasa 10 tahun bagiku. Aku sudah jatuh cinta terlalu dalam padamu. Aku sampai tak mengerti apa yang harus aku lakukan….”
Silvia   : “Oh…. Kak Shin….” (setetes airmata haru mengalir di wajah Silvia)

Kini, mereka saling berhadapan. Saling menatap dan terdiam. Setelah Shinji menjelaskan segalanya pada Silvia, akhirnya Silvia merasa bahwa masih ada secercah harapan untuknya….

Shinji   : “Silvi….” (menggenggam tangan Silvia) “Apakah masih ada tempat untukku di hatimu?”
Silvia   : (menangis terharu…. Tak pernah disangka hal ini akan terjadi) “Ya…. Selalu ada tempat untukmu di hatiku Kak Shin…. Bahkan, seluruh tempat di hatiku adalah milikmu….”

Shinji memeluk Silvia. Mereka berpelukan lama sekali. Perlahan-lahan Shinji melepaskan pelukannya. Dan dia mendekatkan wajahnya pada wajah Silvia. Semakin lama, semakin dekat. Akhirnya mereka berciuman dengan lembut. Ciuman yang penuh dengan cinta….



END

10 comments:

  1. bagus ceritanya..
    tambah lagi dong

    ReplyDelete
  2. cerita-nya bagus". numpang copas ya. :)

    ReplyDelete
  3. @anonymous : makasih. iya, ini ada 2 cerita yg mau dimasukin. sabar ya :)

    @dragon blog : makasih, iya copas aja gpp :)

    ReplyDelete
  4. Si Rei, ok tidak masalah. Tapi si Shinji sepertiya plin-plan. Jadi dia membuat sylvia jadi sedih. Hmm. tapi, paling tidak, ada happy ending untuk the twin. Mudah2an twin yang lain juga mengalami hal yang sama. :)

    ReplyDelete
  5. Hahaha! Saya memang berniat buat tokoh seperti Shinji.
    Iya, semoga twin yg lain jg happy ending kisahnya. Hahahaha ^^

    ReplyDelete